Sesuai dengan definisinya, musik ‘eksperimental’ adalah aliran yang menolak batasan-batasan dan selalu mencari bentuk ekspresi yang baru dan segar dalam bermusik. Menjadi sesuatu yang baru dan fresh itulah yang sebenarnya menjadi basic idea dari experimental. Nah karena itu, musik ini menjadi sesuatu yang ‘beyond border’ atau di luar definisi aliran musik, sekaligus bersifat ‘eklektik’ dalam arti mencampurkan aliran-aliran tersebut menjadi sesuatu yang baru.

Awalnya, musik eksperimental tuh berkembang di era 60-an, dan terus berevolusi sampai sekarang. Bayangin aja, musik seperti punya dunianya sendiri, terus berkembang dan bereksperimen dengan menggabungkan berbagai bunyi-bunyian yang tak terbatas dan membangkitkan nuansa yang ada di pikiran kita. Bukan hanya bagi yang bikin, tapi juga bagi kita yang menikmatinya. Sebenarnya, bermusik eksperimental membuka ruang selebar-lebarnya bagi para musisi untuk berkarya, tanpa batas. Dengan berbagai bunyi-bunyian yang dapat diaplikasikan dalam lagu, bisa jadi variasi atau pilihan di telinga kita. Semuanya tergantung gimana kita bisa bereksperimen dengan ide yang nyangkut di kepala. Seliar apapun itu!
Just like how the world is spinning around! Keberanian bereksperimen dapat menambah warna baru yang bikin seru. Beberapa musisi dengan kreativitasnya mencoba berbagai cara dalam bermusik, demi menciptakan kesegaran dalam industri musik, bahkan membuat nama mereka semakin mendunia, misalnya beberapa musisi di Indonesia. Di tahun 2010, duet SENYAWA asal Yogyakarta, Rully Shabara dan Wukir Suryadi. Mereka punya konsep vokal neo tribal dengan berbagai alat musik eksperimental yang terbuat dari “bambu wukir” dan peralatan pertanian dari berbagai desa di Indonesia. SENYAWA sukses malang-melintang di luar negeri mengikuti berbagai festival bergengsi, seperti Eaux Claires Festival di Wisconsin, Amerika Serikat, CTM Festival Berlin, Jerman, Old Market Music Festival di Bristol, Inggris.
Coba deh kalian dengerin lagu dari Dipha Barus yang berkolaborasi sama musisi R&B asal Los Angeles yaitu Cade Larson yang judulnya DOWN. Di lagu itu Dipha menggunakan suara Rindik Bali, yaitu alat musik tradisional yang memanfaatkan bambu sebagai aransemen dasarnya. Terus bagian itu disesuaikan dengan karakter vokal dari Cade. Keren banget kan?
Kalian tau ga sih, Band Radiohead dari Inggris yang identik dengan alternative rock atau Britpop, ternyata juga punya sisi eksperimental lho! Apalagi saat mereka memutuskan kontrak dengan label Rekaman mereka pada tahun 2007, mereka bisa bebas eksplorasi dan memilih musik eksperimental. Album in Rainbow (2008), The King of Limbs (2011), dan A Moon Shaped Pool (2016) adalah hasil eksplorasi Radiohead. Vokal khas ala britpop dengan bunyi-bunyian random eksperimental menjadi ciri khas baru Radiohead di 3 album terbaru mereka. Makanya Radiohead dipuji bisa mengemas avant-garde ala musik eksperimental dan meraih sukses secara mainstream. Wah wah wah, mungkin mereka juga pengen menghasilkan sound keren dari awal karier seperti di album PABLO HONEY yang dirilis pertama kali tahun 1993.
Walaupun banyak persepsi kalau musik eksperimental itu sulit diterima sebagai musik komersial, kayaknya sih Radiohead bisa matahin persepsi itu. Seperti Dipha Barus dan juga Radiohead musik eksperimental itu bisa tetep enak kok. Tinggal bagaimana finding the ideas nyad dong! Setuju ga kalau justru musik eksperimental tuh bisa bikin warna dan pilihan bermusik jadi lebih menarik? Tinggal gimana kita explore dan bikin sesuatu yang lebih easy listening aja. Tinggal gimana kalian explore dan bikin sesuatu yang lebih easy listening aja. Siapa tau dari ideas yang kalian punya, apapun itu, kalian bisa berkreasi sebebas-bebasnya. Dan bisa jadi experience yang ga terlupakan, sampe pengen express lagi, dan lagi.
So, let's explore, experience, express your new sound!
Stay tuned on letscml.id buat dapetin update-an menarik lainnya seputar musik dan jangan lupa REGISTER sekarang!
Kumpulin terus CML Points dengan cara log in sesering mungkin, aktif di forum ini dan share artikel, join LET'S CML Studio buat ngobrol seputar music, art, fashion, dan submit karya kalian untuk dapetin kesempatan kolaborasi bareng Dipha Barus, Bernhard Suryaningrat, dan Jeffry Jouw di LET'S CML Project yang hasilnya bakal di-showcase di LET'S CML Festival. Kalian bisa nukerin CML Points yang terkumpul dengan berbagai exclusive merchandise.
5 years ago like ShareWebsite ini diperuntukkan untuk kamu yang berumur 18 tahun ke atas,
karena terdapat informasi soal produk rokok.
Dengan memasuki website ini, kamu benar menyatakan diri berusia
18 tahun ke atas.



